HUKUM MENTAL

Hukum Mental, Hukum Abadi Yang Tidak Pernah Diajarkan di Sekolah Formal

“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle” ~Albert Einstein. 

Di alam semesta terdapat dua macam hukum yaitu hukum buatan manusia dan hukum alam. Hukum buatan manusia merupakan kesepakatan yang dibuat oleh manusia. Hukum ini mengikat perilaku setiap individu yang ada dalam ruang lingkup pemberlakuan hukum ini. Hukum buatan manusia penuh dengan kekurangan dan dapat dimanipulasi dengan menggunakan kekuasaan dan uang. Dengan kata lain, yang benar bisa jadi salah dan yang salah bisa jadi benar. Semua bergantung pada faktor “x” yang bermain. 

Hukum alam terbagi atas dua kategori yaitu hukum fisika dan hukum mental. Hukum alam berlaku 100 % dari seluruh waktu dan berlaku terhadap semua makhluk hidup. Tidak peduli apakah mahluk itu tahu atau tidak tahu mengenai hukum tersebut. Tidak peduli apakah ia menerima atau menolak hukum itu. Suka atau tidak suka, tahu atau tidak tahu, menerima atau menolak, hukum ini berlaku secara adil dan merata pada semua mahluk. Hukum fisika diajarkan di sekolah. Kita semua bisa mempelajari hukum ini. Operasi hukum fisika, seperti yang mengatur listrik atau mesin, bisa dibuktikan dalam percobaan yang terkontrol dan kegiatan yang praktis. 

Hukum gravitasi, misalnya, bekerja di mana-mana di seluruh planet bumi selama 24 jam sehari. Kalau anda melompat dari sebuah gedung tingkat sepuluh, anda akan jatuh ke trotoar dengan kekuatan yang sama, apakah anda berada di New York ataupun di Jakarta. Saudara kita yang berada di pedalaman Kalimantan atau di Irian Jaya, walau mereka sama sekali tidak pernah mendengar tentang hukum gravitasi, yang ditemukan oleh Newton, bila mereka jatuh dari pohon yang tinggi mereka pasti akan mengalami efek yang sama. 

Bila kita mengerti cara kerja hukum fisika, seperti hukum gravitasi, maka kita dapat memanfaat hukum ini untuk keuntungan kita. Misalnya dengan membuat bendungan atau waduk. Air yang ditampung dalam bendungan, karena gaya gravitasi, dapat digunakan untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. 

Sebaliknya, hukum mental tidak pernah diajarkan di sekolah. Hukum mental hanya bisa dibuktikan dengan pengalaman dan intuisi, dengan melihatnya bekerja dalam kehidupan kita sendiri. 

Hukum mental sama seperti hukum fisika. Hukum ini berlaku di mana saja terhadap siapa saja, dan kapan saja. Hukum ini netral dan bekerja bagi anda di mana saja, tanpa memperdulikan apakah anda tahu tentang hal itu, menerima atau menolaknya, suka atau tidak suka. Dan yang lebih hebat lagi, hukum ini tidak bisa dimanipulasi. 

Hukum mental, walaupun pengaruh fisiknya tidak bisa dilihat cukup jelas, juga bekerja 100 % dari seluruh waktu. Kapan saja kehidupan anda berjalan baik, ini berarti bahwa pemikiran dan kegiatan anda sesuai dan serasi dengan hukum mental ini. Kapan saja anda punya masalah dari jenis apapun, hal itu pasti disebabkan anda telah melanggar salah satu atau lebih dari hukum ini, apakah anda mengetahuinya atau tidak. Jika anda mengerti dan menerapkan hukum-hukum ini dalam hidup anda, maka anda akan berubah dengan sangat cepat. 

HUKUM MENTAL #1: HUKUM SEBAB-AKIBAT 

Hukum ini menjelaskan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. Hukum Sebab – Akibat mengatakan bahwa ada penyebab spesifik untuk sukses dan ada penyebab spesifik untuk kegagalan. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Hukum ini sangat penting sehingga disebut “Hukum Alam Semesta Baja” yang menentukan nasib manusia. Jika anda ingin mendapatkan sesuatu, atau ingin mendapatkan sesuatu lebih banyak, maka yang perlu anda lakukan adalah anda menyediakan lebih banyak “sebab” yang dapat menghasilkan “akibat” yang anda inginkan. 

Hukum Sebab – Akibat ini biasa disebut juga sebagai Hukum Menabur dan Menuai. Hukum ini mengatakan apa saja yang anda tabur akan anda tuai. Apa yang anda tuai hari ini adalah hasil dari apa yang anda tabur di masa lalu. Kalau anda ingin menuai hasil panen yang berbeda di bidang apa saja dalam hidup anda di masa mendatang maka anda perlu menabur benih yang berbeda hari ini, dan tentu saja , ini mengacu pada benih mental. 

Keberhasilan hidup, di bidang apa saja, adalah suatu akibat, dengan suatu sebab yang spesifik. Jika anda menemukan seseorang sukses di suatu bidang dan anda ingin mendapatkan hasil seperti yang dicapai orang itu, maka yang perlu anda lakukan adalah melakukan apa yang ia lakukan. Jika anda menabur suatu sebab maka anda pasti menuai suatu akibat yang spesifik. Jika anda menabur pikiran, ucapan, perbuatan, sikap, perilaku, dan tindakan sukses maka anda pasti akan menuai sukses. Demikian sebaliknya. 

Jadi, jika anda tidak puas dengan hidup anda sekarang, anda tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan orang lain. Yang perlu anda lihat adalah benih atau sebab apa yang telah anda tabur di masa lalu ? Dengan kesadaran ini, jika anda benar-benar merasa tidak puas dan ingin segera berubah, maka anda perlu segera menabur hal yang berbeda. 

Dengan dasar pemahaman ini kini anda tahu bahwa sikap mental, perasaan, kebahagiaan, dan kepuasan anda adalah hasil dari bibit mental yang anda tanam di pikiran anda. Jika anda mengisi pikiran anda dengan gambaran, pikiran, ide sukses, kebahagian, dan optimisme, maka anda akan mendapatkan pengalaman positip dalam kehidupan anda. 

Saya sering merasa prihatin saat mendengar banyak orang yang berkata, “Saya akan kerja lebih keras, kerja lebih baik, bila perusahaan saya memberikan gaji yang lebih tinggi, tunjangan dan fasilitas yang lebih baik”. Mereka lupa atau mungkin tidak tahu mengenai hukum Sebab – Akibat atau hukum Menabur dan Menuai. Mereka tidak mau menabur. Maunya kalau bisa menuai terus tanpa perlu menabur. 

Sudah tentu orang dengan mentalitas seperti ini tidak bisa sukses karena ia telah melanggar hukum Sebab-Akibat. 

HUKUM MENTAL # 2: HUKUM KOMPENSASI 

Hukum ini merupakan kelanjutan dari Hukum Menabur dan Menuai. Hukum Kompensasi menyatakan bahwa anda mendapatkan hasil sebanding dengan upaya atau kontribusi yang anda lakukan, titik. Tidak lebih dan tidak kurang. Pas ukurannya dan pas takarannya. Dengan demikian apa yang telah anda capai dalam hidup anda saat ini, misalnya dari segi finansial, merupakan kompensasi atau hasil dari apa yang telah anda lakukan di masa lalu. Jika anda ingin meningkatkan hasil anda maka anda harus meningkatkan nilai kontribusi yang anda lakukan. Penekanannya ada pada “nilai” kontribusi yang dilakukan. Bukan sekedar kontribusi atau upaya yang dilakukan. 

Mengapa? Hal ini menjawab pertanyaan mengapa para pemimpin mendapatkan kompensasi (baca: hasil) yang jauh lebih besar dibandingkan dengan orang biasa. Padahal orang biasa melakukan kerja yang jauh lebih keras dari pada para pemimpin itu. Ini semua berhubungan dengan “nilai” kontribusi atau upaya yang dilakukan. Semakin besar pengaruh positif yang timbul dari suatu tindakan maka semakin tinggi nilainya. Ini menjelaskan mengapa seorang supervisor mendapat kompensasi lebih besar dari karyawan biasa. Demikian pula seorang manajer mendapat kompensasi jauh lebih besar daripada supervisor. Demikian pula seorang pilot mendapat kompensasi jauh lebih besar dari pramugari atau ground staff. Padahal bila dihitung jam kerja mereka sama. 

Salah cara untuk tahu apakah “nilai” kontribusi seseorang tinggi atau rendah adalah apa yang akan terjadi bila orang ini tidak lagi ada atau bekerja. Apakah dengan ia tidak lagi bekerja akan memberi pengaruh besar pada tempat kerja atau lingkungannya? Apakah ia sulit digantikan oleh orang lain? Semakin sulit seseorang digantikan maka semakin tinggi “nilai” kontribusinya. Demikian pula sebaliknya. 

Anda mungkin pernah bertemu atau bahkan merasa heran mengapa ada orang yang mendapatkan hasil yang sangat berlimpah, dan ada orang yang tidak mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Apakah Tuhan pilih kasih? Tidak! Jawabannya sederhana. Orang yang mendapatkan hasil berlimpah telah melakukan jauh lebih banyak dari yang seharusnya. Dengan kata lain mereka menabur sangat banyak benih. Tidak heran jika mereka menuai lebih banyak hasil. 

HUKUM MENTAL #3: HUKUM KEPERCAYAAN 

Hukum Kepercayaan mengatakan bahwa apapun yang anda percayai dengan sungguh-sungguh dan melibatkan emosi akan menjadi kenyataan anda. Dalam bahasa Inggris dikatakan, “You will see it when you believe it”. Kepercayaan anda mengendalikan realita anda. Mengapa? Karena anda akan konsisten bertindak sejalan dengan kepercayaan anda. Kita dapat melihat kepercayaan seseorang hanya dengan melihat apa yang mereka lakukan. Tindakan merupakan perwujudan dari kepercayaan. 

Hukum ini berlaku dua arah. Pertama, kepercayaan menentukan tindakan yang kita lakukan. Sebaliknya, dengan secara sadar mengendalikan setiap tindakan kita, maka kita dapat secara tidak langsung membentuk dan mengendalikan kepercayaan kita. Dengan selalu melakukan tindakan yang sejalan dengan kepercayaan yang ingin anda kembangkan, maka anda akhirnya pasti akan mampu membangun kepercayaan itu, sama halnya dengan anda melatih otot anda dengan mengangkat barbel. 

Misalnya anda percaya bahwa anda ditakdirkan untuk menjadi seorang pembicara publik yang berhasil, dan anda berjalan, bersikap, berbicara, dan bertindak layaknya seorang pembicara publik yang sukses, setiap hari, maka cepat atau lambat anda akan mengembangkan mind-set sebagai seorang pembicara publik andal. Dan bila anda mulai mengembangkan mind-set ini, anda akan mendapatkan hasil yang konsisten dengan mind-set anda. Akhirnya, kepercayaan anda akan menjadi kenyataan. 

Kepercayaan anda memberi anda suatu bentuk pandang terowongan (tunnel vision). Hal ini membuat anda mengabaikan informasi, yang masuk, yang tidak konsisten dengan apa yang anda putuskan untuk anda percayai. Anda tidak selalu mempercayai apa yang anda lihat tetapi anda melihat apa yang anda percayai. 

Misalkan jika anda mutlak percaya bahwa anda pasti sukses besar dalam kehidupan, maka tidak peduli apapun yang terjadi, anda akan terus maju ke arah tujuan anda. Tidak ada apapun yang dapat menghentikan anda. 

Sebaliknya jika anda percaya bahwa sukses hanyalah soal kemujuran atau kebetulan saja maka anda akan dengan mudah menjadi patah semangat dan kecewa setiap kali segala hal tidak berjalan sesuai dengan keinginan anda. Jadi kepercayaan menetapkan anda untuk sukses maupun gagal. 

Kepercayaan yang paling berbahaya, yang lebih berbahaya dari penyakit AIDS atau Kanker adalah self-limiting belief atau kepercayaan yang bersifat melemahkan diri kita. Kepercayaan ini sangat berbahaya dan mematikan, secara mental dan emosional. Orang yang “mengidap” penyakit self-limiting belief biasanya tidak sadar bila terkena penyakit gawat ini. Lalu apa itu self-limiting belief ? Ini adalah kepercayaan yang berdasar pada keraguan dan rasa takut. 

Kepercayaan ini menghalangi anda mencapai keberhasilan. Kepercayaan ini berisi pemikiran negatip mengenai diri anda yang mengatakan bahwa anda tidak cakap, tidak kreatif, penampilan anda buruk, anda tidak punya kelebihan, anda orang bodoh, dan tidak berenergi. Setiap kali anda meragukan kemampuan anda maka anda memberikan energi pada kepercayaan itu. Semakin sering anda mengulangi perilaku buruk, akibat dari kepercayaan yang salah, maka semakin kuat kepercayaan negatip itu. 

Hampir semua kepercayaan yang membatasi diri kita sama sekali tidak benar. Kepercayaan ini terbentuk berdasarkan informasi negatif yang anda masukkan ke dalam hati dan anda menerima hal ini sebagai sesuatu yang benar. Begitu anda menerima kepercayaan itu sebagai sesuatu yang benar, maka kepercayaan anda akan menjadi realita anda. Untuk mengatasi hal ini anda harus menantang dan mempertanyakan kebenaran kepercayaan anda. Anda perlu memeriksa sumber dan keabsahan kepercayaan anda. 

Untuk berkembang kita perlu bersikap kritis bahkan terhadap kepercayaan kita yang paling dalam. Kita perlu berani bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana saya tahu dan yakin bila kepercayaan ini adalah benar? Bagaimana bila ternyata kepercayaan ini salah dan sangat merugikan hidup saya?” 

HUKUM MENTAL #4: HUKUM KONSENTRASI 

Hukum Konsentrasi menyatakan bahwa semakin anda memikirkan sesuatu maka semakin besar kapasitas dan energi mental yang anda curahkan pada hal itu yang mengakibatkan pikiran itu menjadi semakin kuat. Selanjutnya pikiran yang semakin kuat ini akan memengaruhi dan mengendalikan perilaku anda. Efeknya seperti bola salju yang semula masih kecil. Saat menggelinding dari atas bukit ke lembah maka ia membangun momentum menjadi semakin besar dan semakin kuat hingga akhirnya sangat sulit dihentikan. 

Kekuatan hukum ini ibarat pedang bermata dua, bisa membantu anda dan bisa menghancurkan hidup anda. Jika anda terus berpikir mengenai goal anda, maka pikiran ini akan mendominasi semua pemikiran, ucapan, perasaan, perbuatan, dan tindakan anda. Semakin anda memikirkan tujuan anda, maka semakin kuat pikiran ini dan semakin fokus anda untuk mencapainya. Semakin sering anda memikirkannya maka semakin termotivasi anda untuk mencapainya. 

Sebaliknya, bila anda, secara sadar atau tidak, selalu memikirkan hal yang tidak anda inginkan, maka pemikiran ini akan mendominasi semua pikiran,perasaan, ucapan, perbuatan, dan tindakan anda sehingga akhirnya apa yang tidak anda inginkan akan menjadi kenyataan bagi anda. 

Sering kali dalam sesi diskusi atau konsultasi dengan klien atau peserta pelatihan Quantum Life Transformation (QLT), saya menanyakan pertanyaan, “Apa yang ingin anda capai dalam hidup?”. 

Jawabannya beragam. Namun ada satu hal yang konsisten. Mereka yang hidupnya biasa-biasa atau malah serba kekurangan, biasanya memberikan jawaban, “Saya tidak mau hidup susah. Saya sudah cukup menderita. Saya tidak ingin dipandang rendah oleh orang lain. Saya sudah capek hidup miskin”. Sebaliknya, orang sukses atau yang mempunyai prestasi tinggi akan menjawab, “Saya ingin mengembangkan usaha saya ke kota lain. Saya ingin meningkatkan penghasilan saya tiga kali lipat dalam tahun ini. Saya ingin membawa keluarga saya liburan ke luar negeri akhir tahun ini”. Anda bisa lihat bedanya? 

Orang gagal adalah orang yang selalu memikirkan apa yang tidak mereka inginkan. Sesuai dengan hukum Konsentrasi, semakin mereka fokus pada hal yang tidak inginkan, justru semakin kuat pikiran mereka memikirkan hal itu. Dan akhirnya mereka mendapatkan apa yang tidak mereka inginkan. Sebaliknya orang sukses selalu memikirkan hal yang mereka inginkan. Dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. 

Untuk dapat menggunakan hukum Konsentrasi dengan maksimal, anda perlu menuliskan apa yang anda inginkan, kemudian secara konsisten memikirkan hal itu, membicarakannya, bertindak, dan bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang layak untuk mendapatkan keberhasilan yang diinginkan. Ada dua cara untuk menggunakan hukum ini. Pertama, dengan pikiran sadar Anda terus menerus mengingat goal Anda. Ini tentu akan sangat melelahkan dan efeknya biasanya kurang kuat dan membutuhkan waktu lama. 

Kedua, dengan menggunakan pikiran bawah sadar. Caranya adalah dengan menanamkan goal ini di pikiran bawah sadar serta diberi program untuk bisa terus mengingat dan memperkuat goal ini secara berkelanjutan. Cara kedua ini memang membutuhkan teknik namun tidak sesulit yang dibayangkan orang. 

HUKUM MENTAL #5: HUKUM DAYA TARIK 

Hukum Daya Tarik mengatakan bahwa anda adalah sebuah magnet hidup yang menarik ke dalam hidup anda orang-orang atau situasi yang serasi dengan pemikiran dominan anda. Semakin banyak emosi yang anda kaitkan dengan suatu pemikiran, semakin besar tingkat getaran dan daya pancarnya dan semakin cepat anda menarik, ke dalam hidup anda, orang dan situasi yang serasi dengan pemikiran tersebut. 

Pikiran anda menciptakan suatu medan energi yang bergetar pada kecepatan yang ditentukan oleh tingkat intensitas emosi yang menyertai pemikiran tersebut. Semakin anda bergairah, atau merasa takut, semakin cepat pemikiran anda memancar dari diri anda dan menarik orang-orang dan situasi yang serupa kembali ke kehidupan anda. 

Saat anda positif dan optimis mengenai diri anda, maka pikiran anda memancarkan gelombang yang akan menarik orang, kejadian, situasi, sumber daya, pelanggan, atau apa saja yang sejalan dengan frekuensi itu. Demikian juga sebaliknya. Bila pemikiran anda yang dominan adalah yang negatip, maka anda akan menarik semua hal yang negatip ke dalam hidup anda. 

Hukum Daya Tarik ini yang ramai dibicarakan dengan sebutan The Law of Attraction (LOA). 

HUKUM MENTAL #6: HUKUM KESESUAIAN 

Hukum Kesesuaian mengatakan , “Dunia di luar diri anda merupakan cerminan dari dunia di dalam diri anda”. Hukum ini menyatakan  bahwa anda bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam diri anda dengan melihat kepada apa yang terjadi di sekeliling anda. Hukum ini juga sering disebut dengan “As above so below” atau “As within so without.” 

Goethe berkata: “Orang harus menjadi sesuatu supaya bisa melakukan sesuatu.” Maksudnya yaitu anda harus menjadi orang yang berbeda di dalam diri anda sebelum anda melihat hasil yang berbeda di luar anda. 

Dunia luar anda merupakan cermin yang memantulkan kembali siapa diri anda, dalam setiap aspek kehidupan anda. Cerminan ini tidak menggambarkan siapa anda ingin menjadi, atau siapa yang anda pura-pura menjadi. Namun apa yang muncul dalam cermin diri itu adalah siapa diri anda yang sesungguhnya pada saat ini. 

Lalu bagaimana cara untuk mengetahui dunia di dalam diri kita ? Mudah. Coba perhatikan sikap anda terhadap orang lain dan lingkungan anda. Sikap orang lain atau lingkungan terhadap diri anda adalah cerminan dari sikap anda terhadap mereka. Jika anda bersikap baik dan menghargai diri anda, maka anda akan melakukan yang sama terhadap orang lain. 

Jadi, cara orang lain memperlakukan diri anda sebenarnya merupakan cerminan dari apa yang anda pikirkan mengenai diri anda dan apa yang anda pikirkan mengenai lingkungan anda. Siapa kawan atau teman bergaul anda menggambarkan siapa diri anda sebenarnya. Jika anda bergaul dengan orang yang mempunyai nilai dan prinsip hidup yang baik maka hal ini berarti anda juga orang baik. Jika anda bergaul dengan orang yang tidak baik maka diri anda juga tidak baik. Ada satu pepatah yang sangat bagus yang berbunyi, “Birds of the same feather flock together” atau “Burung yang warna bulunya sama akan berkumpul bersama-sama”.  

HUKUM MENTAL #7: HUKUM PENGENDALIAN  

Hukum Pengendalian mengatakan bahwa anda merasa positip tentang diri anda sebatas anda merasa memegang pengendalian atas kehidupan anda. Demikian juga anda merasa negatif tentang diri anda sebatas anda merasa tidak memegang pengendalian, atau anda dikendalikan oleh suatu daya, orang atau pengaruh luar. 

Dalam psikologi, hukum ini disebut sebagai teori “fokus pengendalian”. Pada umumnya sebagian besar stress, kegelisahan, ketegangan dan penyakit psikosomatis datang sebagai akibat perasaan bahwa orang itu berada di luar kendali, atau tidak bisa mengendalikan suatu bagian penting dari kehidupannya. 

Sebagai contoh, kalau anda merasa bahwa hidup anda dikendalikan oleh utang anda, bos anda, atau gangguan kesehatan anda, atau hubungan yang buruk , atau perilaku orang lain, maka anda akan menderita stress. Stress ini akan muncul dalam bentuk kekesalan, kemarahan, dan rasa tidak senang. Kalau tidak diatasi, ini bisa meningkat menjadi insomnia, tekanan jiwa atau berbagai penyakit. Bahkan bisa kena 3S, yaitu Stress, Stroke, dan Stop alias meninggal. Dalam setiap kasus, pengendalian atas kehidupan anda dimulai dengan pemikiran anda, satu-satunya hal yang bisa anda kendalikan sepenuhnya. 

Disiplin pribadi, penguasaan diri, pengendalian diri semuanya dimulai dengan pengambilan kendali anda atas pemikiran anda. Pikiran andalah yang menentukan apa arti suatu kejadian itu terhadap diri anda. Sebagaimana Eleanor Roosevelt berkata,” Tidak ada seorang pun yang bisa membuat diri anda rendah tanpa persetujuan anda.” 

Pada dasarnya ada dua cara yang memungkinkan anda bisa mendapatkan pengendalian atas situasi apa saja yang menyebabkan anda menderita. Pertama, anda bisa mengambil tindakan untuk mengatasi hal tersebut. Yang kedua, anda meninggalkan situasi tersebut. 

Salah satu tanggung jawab utama anda adalah menjaga agar kehidupan anda selalu berada di bawah pengendalian anda. Rasa pengendalian ini menjadi landasan anda untuk membangun kebahagian dan sukses anda yang lebih besar di masa mendatang. Pastikan bahwa landasan rasa pengendalian ini kuat seperti batu karang.

Sumber : adiwgunawan.com